Tampilkan postingan dengan label Belut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belut. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Desember 2009

Mohon Maaf, bukan Blog Pak Ahmad Sarkan

Setelah membaca beberapa tanggapan dari para pengunjung blog ini, saya selaku pengelola menginformasikan bahwa "General Hobby" BUKAN webside/blog dari Bapak Ahmad Sarkan, dan pengelola tidak ada kerjasama dengan beliau. Didalam blog ini memang ada beberapa artikel yang memuat beliau, itu semata liputan dari pengelola disaat bertemu dengan beliau. Jikalau ada kekecewaan terhadap beliau mohon disampaikan langsung kepada beliau.
Sekali lagi saya selaku pengelola blog ini , mohon Maaf sebesar-besarnya jika ada kekecewaan diantara para pembaca.

salam
Mutiarasani

BUDI DAYA BELUT DI KOLAM BUATAN MUNGKINKAH ???

Sekedar renungan yang kami ambil dari milis Belutjawa

Upaya banyak pihak untuk membudidayakan belut sudah dimulai sejak
hampir dua setengah dasa warsa yang lalu, namun hingga sekarang belum
pernah memberikan hasil yang memuaskan. Budidaya belut yang dilakukan
orang sampai akhir-akhir ini adalah menggunakan media bak, kolam
permanen, atau drum besi yang dimiringkan yang diisi dengan bahan-
bahan sebagai media untuk menyediakan pakan bagi belut. Binatang
primitip yang ternyata mampu mejeng sampai di Super Market setelah
dicampur bumbu dengan tepung dan digoreng renyah, ternyata bukan
dipanen dari hasil budidaya yang selama ini susah payah diusahakan
orang .
RENUNGAN
Belut-belut ini ditangkap dari sawah dengan sangat keji seperti
menggunakan stroom, apotas dan jenu. Mereka hidup subur di lahan sawah
yang pemilik sawahnya sangat suka mengembalikan jerami setelah dipanen
dan memberi sedikit pupuk kandang dan pupuk hijauan. Namun belut
tidak suka hidup disawahnya Kontak Tani atau petani maju yang sangat
rajin mendengarkan rekomendasi PPL dengan teknologi tinggi yaitu pupuk
berimbang, pestisida yang cespleng dan pestisida tabur.
Sebagai dampak dari euphoria politik peningkatan produksi pangan
terutama beras, belut yang nyata-nyata dapat menghidupi dan member
lapangan kerja banyak orang termarginalkan. Belut membawa misi
kehidupannya sendiri yang orang tak pahami.
KONSEP
Mengapa orang tidak berhasil membudidayakan belut ? Segudang
pertanyaan menghantui penulis selama satu dasa warsa terakhir.
Benarkah belut itu sejenis ikan ? Belut tidak pernah mau menjawab
pertanyaan itu. Beberapa ahli dibidang perikanan tempo dulu langsung
mengklaim bahwa belut termasuk binatang sejenis ikan, maka dibuatlah
konsep budi daya belut. Komunikasi dengan belut tidak pernah
dilakukan, namun upaya mengatur kehidupan belut dibuat dan dilakukan.
Yang paling memprihatinkan adalah tidak pernah dilakukan evaluasi
apalagi penelitian.

Setelah mengamati hampir satu dasa warsa, penulis mencoba memahami
apa yang dimaui belut.
1. Konsep dasar “budidaya belut” yang selama ini dilakukan adalah
menggunakan konsep “budidaya ikan”
2. Konsep pembuatan media hidup bagi belut yang dibuat di kolam, drum
atau bak permanen adalah “konsep penyediaan pakan”, bukan konsep
“tersedianya pakan yang baik di lingkungan hidup yang cocok bagi belut
sawah”.
3. Sifat kanibal dan berganti kelamin merupakan sifat bawaan belut
yang sulit dikendalikan, sehingga hanya lahan sawah yang subur
merupakan media yang paling cocok bagi perkembang biakan belut.
4. Habitat asli belut yang berupa lumpur sawah yang subur ternyata
tidak dapat diimitasi di kolam-kolam pemeliharaan.

HARAPAN
Setelah orang selama hampir 25 tahun memaksa belut untuk hidup di
kolam dan tidak seorangpun berhasil, kini belut benar-benar menjawab
pertanyaan banyak orang bahwa dirinya adalah bukan ikan dan tidak mau
hidup di kolam. Dia akan mengabdikan hidupnya bagi kepentingan manusia
namun dengan syarat hanya akan hidup dan berkembang biak dengan baik
apabila ia di sawah.
“Kembalikan jerami padiku setelah engkau ambil gabahnya, bebaskanlah
lingkunganku dari pestisida apabila engkau olah tanahnya, kirimilah
aku dengan kotoran ternakmu, maka akan aku berikan pada anak cucumu
protein yang baik untuk kecerdasannya, rejeki yang banyak bagi yang
mengusahakannya dan akan menjadi terkenal namanya bagi siapa saja yang
menggoreng dan membungkusku dengan kemasan yang baik”
Demikianlah apa yang dikatakan belut kepada kita semua termasuk
kepada mereka yang jijik, ngeri dan geli bila melihat belut.

PENUTUP
Jangan tanyakan padaku bagaimana caranya memelihara belut di kolam,
karena itu hanya omong kosong.
Tanyakan padaku “bagaimana membiakkan belut ?”…………
Jawabannya adalah :” suburkanlah sawah, maka belut melimpah”

Adji Pribadi R. ( PPL Perikanan Kecamatan Godean )
Hp 08174123018

Senin, 06 April 2009

belut Besar dan CV. A-mtd Raja P.A.S.A

Jangan kaget liat belut yang segini gede, saya juga baru pertama, ndak tahu kalau para beluter dah pernah melihatnya. Ceritanya saya di call ama Pak Ali kalau di kolam penampungan beliau ada seekor belut yang cukup besar. Tanpa pikir panjang saya coba main kerumah beliau, saya datang langsung belut diangkat dari kolam ke ember, wow besar benar. Ceritanya belut ini sisa beberapa bulan yang lalu, dan untuk makan kata beliau hanya di kasih nasi sisa, tidak kepikiran kalau didalam ada belut yang besar seperti itu. Kira-kira berapa lama ya umurnya?
Saya akan coba sharing sedikit informasi yang saya dapat dari hasil main ke rumah Bapak Ali Murtadho. Bapak Ali adalah pemilik dari CV A-mtd Raja P.A.S.A, beliau bergerak dalam bidang perdangangan belut, baik itu belut konsumsi maupun bibit belut, selain itu juga menyediakan olahan belut berupa keripik belut yang bukan asing lagi bagi kita.
Untuk jenis bibit belut yang disediakan dari jenis kuning yang bergaris hitam, isi tiap kilogramnya antara 100-150 ekor. Bapak Ali juga melayani penjualan bibit untuk luar kota, tentunya ditambah biaya kirim untuk masing-masing kota. Untuk luar kota tentunya ada minimal order biar ongkos kirim tidak lebih mahal dari harga bibitnya.

Harga untuk bibit belut di Pak Ali sekitar 30.000 rupiah, harga ini bisa berubah-ubah, tergantung ketersediaan bibit, jumlah pembelian, hal ini wajar dalam hukum ekonomi.
Ukuran belut konsumsi perkilo isi 7-10 ekor, untuk harga sangat variatif. ketika saya berkunjung kesana ada stok belut konsumsi cukup banyak sekitar 9 kwintal, namun belum sampai 1 minggu stok tinggal 0,5 drum, sekitar 75 kg. sehingga bisa kita simpulkan kebutuhan akan belut konsumsi sangat besar.
Berikut beberapa gambar yang sempat saya ambil dari rumah bapak ali, semoga bisa menjadi referensi kita.

Alamat Bapak Ali
CV. A-mtd Raja P.A.S.A (Perkasa Alitama Sukses Abadi)
jl Pati-Kudus
Perum Sukoharjo Indah Blok A no.3
telp 081325090629,085865646069

Belut dibandingkan Aqua gelas

Belut Ditangan Pak Ali

Drum Penampungan Belut Konsumsi

Kolam Penampungan Sementara


Rabu, 11 Maret 2009

Mengolah Belut, KOKI CILIK TRANS 7

Ide tulisan ini berasal dari tanyangan salah satu stasiun Televisi TRANS 7 pada jum'at 6 maret 2009. Ceritanya pas nemenin anak nonton acara Koki Cilik, topik yang diangkat saat itu berhubungan dengan Belut, ini yang menarik.
(Image from http://as3pram.wordpress.com/page/3/)
Ilustrasi tayangan diawali dengan sang koki mancing belut disawah, sayang kelihatannya ilustrasinya ndak begitu nyambung, soalnya saat mancing kok pakai sepatu kayak mau olahraga aja (maaf, hanya sekedar kritik), dan sayang belut hasil tangkapan ndak dibawa, entah di buang kemana, soalnya mereka harus bergegas masak belut di hotel yang cukup mewah, kali aja ndak boleh bawa belut sendiri ke hotel.
Akhirnya acara memasak dimulai, saya lupa apa menu masakannya lupa ndak bawa catatan, tapi intinya filet belut dicampur dengan beberapa sayuran, kelihatannya cacahan wortel, ama tambahan bumbu-bumbu sederhana, bawang merah, bawang putih, garam. Campuran tadi dibuat bulatan-bulatan untuk digoreng seperti cyspy, jadi ada tepung roti, untuk olesan dan sebelumnya di celupkan dalam kocokan telur, biar tepungnya lengket. Kalau kita liat emang untuk memasak belut ndak usah banyak bumbu, sudah terasa gurih itu hebatnya belut.
Kemudian acara dilanjutkan dengan kunjugan ke PT Dapetin punya pak Roy mestinya para beluter ndak asing dengan nama ini, beliau pakar belut generasi awal. Dalam narasi di ceritakan kalau akan dilakukan panen belut, hal ini yang saya nantikan, tapi sayang yang ditampilkan adalah kolam penampungan, bukan kolam budidaya. Salut pada pak Roy yang kabarnya sudah expor belut. Mungkin bagi para beluter yang mau titip expor belutnya, bisa kontak pak Roy, bukan promosi lho. Untuk stok lokal aja kelihatannya kita masih butuh banyak ya.
Nah ini mungkin yang dibutuhkan para ibu-ibu, tip mengolah belut. Agar belut tidak licin maka gunakan abu gosok untuk menghilangkan lendir di badan belut, gosok2 ampe tidak licin lagi, kemudian di cuci bersih dan baru di olah. Dari tanyangan juga bisa digunakan garam jika abu gosok susah didapatkan. Nah yang masih aku belum jelas adalah habis dicuci kenapa harus di rendam dalam air mentimun? apa biar lunak ya. Biasanya setelah belut di potong-potong sebelum digoreng, daging belut di pukul-pukul agar durinya remuk. Sekrang belut siap digoreng, wah gurih tentunya, ditemani dengan nasi liwet, Selamat menikmati


Selasa, 17 Februari 2009

Angkat Belut

Terasa dah lama sekali ndak nulis di blog ini, maklum banyak kesibukan di kerjaan yang baru. Saya mau sharing sedikit ilmu semoga bermanfaat. Ceritanya sebulan lalu saya penasaran ama kolam percobaan saya yang pertama, yang saya isi bibit dari pasar. Saya coba bongkar, tanaman air, enceng gondok disingkirkan semua, air di buang semua, kemudian media mulai di bongkar-bongkar (sayang ndak ada gambarnya yang ini).
Ternyata susahnya minta ampun bongkar media lumpur ini, dan kebetulan karena ini media versi lama yang berisi tanah pekarangan, jerami, gedebog, ama kotoran kambing. Media sudah hampir 10 bulan namun masih ada jerami yang utuh, dan tentunya kotoran kambing yang ndak mau hancur. ini bisa buat catatan para beluter. Kemudian tanah kebun tetep akan padat, susah jadi lumpur, jadi kolam saya hanya beberapa cm aja yang gembur, bagian atas, namun demikian belut masih bisa hidup, tapi tidak optimal.
Saya buat sekat didalam kolam untuk memisahkan media yang mau dibuang dan media yang masih ada belutnya. Ternyata belutnya akan mengumpul kalau kita kejar-kejar, jadi saya kepikiran kalau pada salah satu pojok kolam dibuat tempat yang lebih rendah, didekat pembuangan, sebagai tempat belut yang akan dipanen.
Lumayan capek untuk mengeluarkan media, akhirnya hampir 1 jam untuk mengambil belut dari kolam 2x1 dengan media setinggi 20 cm. Belutnya ndak banyak hanya sekitar 30 an lah, karena dulu dapatnya hanya sekitar 2 kg.
Berikut gambar beberapa belut yang saya tangkap. ada yang besar sekitar pegangan sepeda (Stang), tapi masih ada juga yang kecil, sebesar jempol saya.
Beberapa ekor dimasak, dan sisanya saya masukkan lagi kekolam, sapa tahu bisa beranak pinak. Belut ini hanya saya kasih makan pelet ikan.








Rabu, 03 September 2008

Tebar Bibit

Dah lama pengin sharing soal pengalaman dalam memelihara belut, maklum koneksi tidak memungkinkan, kebetulan tulisan ini saya tulis disaat ada pinjeman telkomsel Flash, disela-sela tugas luar kota. Sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada saudara-saudara, semoga amal ibadah kita diterima Allah, dan kita selalu dalam lindungannya, amin.
Saya akan coba sharing pengalaman saya dalam memelihara belut, saya bilang ini langkah nekad saya, kenapa? karena dari media dan teknik mungkin dibilang jarang dipakai para "pakar" belut yang biasa memberikan ceramah sebagai narasumber. Keinginan untuk mencoba memelihara lebih banyak lagi dari kolam percobaan saya, saya menemukan beberapa belut bisa menjadi besar, walaupun mungkin belum bisa memenuhi kaidah "ekonomis", yang penting intinya bisa besar dulu. Dari sedikit pengalaman tadi saya beranikan untuk membuat media, seperti yang saya tulis sebelumnya.
Pada tahapan pembuatan media ini jangan sampai tergesa-gesa, menurut pengalaman saya media tidak akan siap hanya dalam 2 minggu, jika didalam media tersebut terdapat jerami atau gedebog. Dari penngamatan saya, setelah membusuk gedebog ini akan mengeluarkan cairan yang berbau, ini tidak akan hilang dalam waktu pendek, perlu waktu untuk menjadikan matang. Jadi kalau kita bisa memasukkan jerami dan gedebig dalam keadan kering akan mengurangi waktu pembusukan tersebut. Intinya olah media dengan sebaik-baiknya. Media seperti yang saya uraikan sebelumnya akhirnya siap setelah hampir 2 bulan dengan menggantikan air terus menerus. Matang menurut saya disini karena sudah tidak berbau, ditandai dengan air tidak lagi coklat.
Setelah media siap, awal bulan kemarin saya coba tebar 5 kg bibit,

kebetulan karena saya dekat dengan Bapak Ali, bibit saya ambil dari beliau, wah bukan promosi lho, cuman demikian adanya Bapak Ali menyediakan bibit bagi saudara-saudara yang membutuhkan bibit dari jumlah yang kecil sampai kwintal. sebaiknya memasukkan bibit pada sore hari karena cuaca lebih bagus. Dari 5 kg bibit tersebut pastinya ada yang mati, karena adaptasi. Seringlah dikontrol dalam 1-2 minggu pertama tebar karena biasanya akan ada belut yang mati karena seleksi alam, namun setelah minggu ke 3-4 seharusnya tidak ada lagi belut yang mati, karena sudah beradaptasi. Demikian bila media dan bibit cocok.
Untuk makanan saya coba berikan pelet ikan, ama cacing sutera diawalnya, kenapa? karena waktu untuk mencari makanan alam tidak ada waktu, dan saya yakin bila diadaptasikan insyaallah belut mau makan pelet. Kita tunggu perkembangan selanjutnya.

Senin, 23 Juni 2008

Media Belut Dari Kompos

Rasanya sudah lama ndak sharing di blog ini gatal, cuman bigung mau nulis apa ya, soalnya belum ada info baru. Saya coba sharing pengalaman dalam membuat media untuk belut, yang rencananya akan saya gunakan untuk mengisi dua bak saya. Karena dirasa sulit untuk mendapatkan tanah atau lumpur sawah (soalnya ndak punya sawah, dan ndak ada yang mau jual tanah sawah), saya mencoba mencari informasi media apa yang bisa digunakan, atas saran dari salah satu beluter di negeri seberang menyarankan pakai kompos. Banyak jenis kompos yang bisa digunakan untuk media, dari kompos daun-daunan, sayuran, kotoran sapi atau berbagai jenis bahan organik lainnya.
Akhirnya pilihan jatuh pada kotoran sapi, dengan pertimbangan mudah mendapatkan dan harga yang relatif murah. Sebagai informasi untuk satu bak col diesel l300 sekitar 25 - 30 ribu, tergantung nego, malah kalau kita punya kenalan bisa-bisa gratis, tinggal tambah ongkos angkut dan sewa mobilnya. Pilih kotoran sapi yang sudah setengah matang, biar mudah bawanya.
Bahan lain yang dibutuhkan untuk membuat membuat kompos dengan kotoran sapi ini adalah dedaunan baik kering atau basah, jerami, gedebog untuk mempercepat proses pembuatan kompos sebaiknya ditambahkan starter mikroorganisme, dalam hal ini saya menggunakan merek NOPKOR, banyak jenis mikroorganisme starter yang bisa kita jumpai di pasaran. Jangan lupa siapkan tempat dan tutup, tutup ini dapat berupa karung goni. Tempat ini nantinya digunakan untuk menunpuk bahan yang akan di proses jadi kompos, kalau kita menggunakan kolam dari terpal sebaiknya proses pembuatan kompos ini diproses diluar kolam, karena terpal ini rentan sobek. Kemungkinan karena ketidak segajaan kita saat mengolah kompos terpal tertusuk benda tajam, akhirnya bocor. kalau kolam dari semen proses dapat dilakukan di bak tersebut. sekedar saran saja, untuk jaga-jaga.
Proses pembuatan Kompos.
1. Potong-potong dedaunan, jerami, gedebog atau hijauan yang lain, hilangkan dari ranting-ranting yang keras, potong sekecil mungkin untuk memudahkan proses pembuatan kompos.
2. encerkan stater mikroorganisme sesuai aturan, atau lebih encer guna mencukupi kebutuhan air saat pembasahan media.
3. susun kotoran sapi pada lapisan bawah, kemudian semprot dengan cairan stater mikroorganisme yang sudah di encerkan, sampai media kelihatan cukup basah, lapisan berikutnya adalah hijauan yang sudah dipotong-potong, kemudian semprotkan lagi starter mikroorganisme. Ulangi susunan tersebut sampai media habis. Sebaiknya tinggi bahan per lapisan jangan terlalu tinggi kira-kira 10 cm saja, banyak lapisan lebih bagus.
4. Setelah semua bahan selesai disusun dalam gundukan, tutup gundukan bahan dengan karung goni, jangan dengan plastik, karena mikroorganisme memerlukan oksigen untuk mempercepat proses pengkomposan. karena pengalaman media yang ditutup rapat tidak mau jadi kompos.

5. Cek keadaan media jika terlalu kering semprotkan air kedalam media, agar selalu lembab, jika suhu meningkat terlalu tinggi buka penutup karung goni, sebentar kemudian tutup rapat lagi. Lakukan pengecekan sehari sekali, atau minimal 2 hari sekali.
6. Media akan jadi kompos sekitar 2 - 3 minggu, tergantung kondisi bahan. Ciri-ciri kompos yang sudah jadi adalah hijauan akan hancur, dan kotoran sapi yang semula mengumpal akan terurai dan mudah untuk dikorek-korek.

Kompos yang sudah jadi tidak jangan langsung digunakan untuk media belut, sebaiknya di bolak-balik untuk menghilangkan amoniak dan gas hasil fermentasi. Setelah cukup di angin-anginkan media siap dimasukkan ke dalam kolam, rendam kompos dengan air, kira-kira 2 hari kemudian ganti air dalam kolam. Demikian ganti air beberapa kali, sambil media diaduk-aduk, tujuan dari pencucian media kompos ini adalah menghilangkan gas, dan menstabilkan keasaman media. Jika media sudah tampak gembur bibit belut baru siap untuk di tebarkan.
Artikel tersebut dituliskan dari sedikit pengalaman dalam menyiapkan media utnuk belut, dan dari beberapa referensi, Semoga membantu para beluter, dan mohon saran dan masukan bila ada yang tidak benar.

Kamis, 29 Mei 2008

Pelatihan Budidaya Belut Tanpa Lumpur III

Melajutkan topik pelatihan belut yang diadakan di pati, setelah sesion paparan yang disampaikan oleh bapak Sarkan dilanjutkan dengan sesion tanya jawab. Dalam kesempatan ini peserta bisa menyampaikan langsung pertanyaan seputar budidaya belut, dalam sesion ini pertanyaan dari peserta akan langsung dijawab oleh Bapak Sarkan. Tapi mohon maaf mungkin tidak semua pertanyaan dari peserta dapat saya tangkap, maklum sambil ngelamun soalnya. Berikut beberapa pertanyaan dan jawaban yang masuk dalam pantauan saya:

Q : Jenis Kolam yang tepat untuk budidaya Belut
A : kolam terpal lebih murah namun tidak awet dibanding kolam permanen, namun membutuhkan banyak biaya

Q : Bagaimana cara menghilangkan bau semen pada kolam permanen
A : biasanya di gosok-gosok dengan gedebog pisang dan direndam dengan air gedebog yang coklat itu.
(pengalaman saya pernah mencoba dengan menggunakan larutan PK, jadi kolam dipenuhi air kemudian dimasukkan larutan PK secukupnya, sampai berwarna ungu tua)

Q : Jenis media apa yang paling bagus
A : media yang pernah dicoba oleh bapak Sarkan adalah media dengan lumpur dan media tanpa lumpur, atau gedebog pisang busuk, semuanya bagus
media diusakan ada yang kering, artinya tidak semua tergenang sama air, dengan tujuan jika nantinya pas memberikan pakan cacing jika ada cacing yang tidak termakan bisa hidup di tempat yang kering tadi.

Q : Kreteria gedebog pisang yang dibuat media
A : Gedebog pisang busuk tersebut bukan dibusukkan di dalam kolam, namun dibusukkan diluar kolam. Gedebog yang bagus adalah gedebog yang berasal dari batang pisang yang sudah tua, setelah panen batang pisang dipotong kira-kira 30-50 cm, kemudian disimpan sampai busuk, kemudian baru bisa digunakan untuk media. setelah masuk ke kolam tambahkan air, namun media tidak bisa langsung dimasukki bibit. Ganti air 3-4 kali sampai tidak ada bau dan air lebih jernih. Hal ini difungsikan untuk mengurangi getah dalam batang.

Q : Karena daerah pati terutama winong kurang air dalam musim kemarau, bagaimana cara mengatasinya
A : Air harus ada, tidak bisa di toleransi, cara agar kebutuhan belut akan air terpenuhi maka minimal 2 hari sekali air diganti, atau dialirkan.
(saya ada ide bagaimana kalau air tersebut disirkulasi seperti di aquarium, jadi nantinya setelah sirkulasi terbentuk dengan baik kita tidak usah menambahkan air banyak-banyak, hanya menambahkan sedikit air yang menguap)

Q : Apakah bibit yang dari Bapak Sarkan ada garansinya
A : pembelian bibit dari bapak sarkan diberikan garansi selama 1 bulan jika ada kematian akan diganti, untuk daerah pati dan sekitarnya pembelian bibit dikoordinasi oleh BKM Pandawa. Minimal penggantian jika membeli bibit 25 kg.

Q : Pertanyaan dari rekan beluter Kendal yang mempunyai kendala banyak bibit belutnya yang mati setelah 1 bulan.

A : dimungkinkan karena media yang belum matang dan kondisi air

Q : masih dari rekan dari kendal,kematian belut ini ditandai dengan bercak-bercak putih pada tubuh belut
A : bapak Sarkan belum memberikan jawaban yang cukup memmuaskan penanya, karena kebetulan beliau belum pernah mengalami penyakit tersebut. di perkirakan karena tergores oleh media yang belum matang.

Q : Kenapa kalau ada hujan dimalam hari banyak belut mati di pagi harinya, tapi kalau hujan tersebut siang hari tidak ada masalah dengan belut.
A : Bapak Sarkan memberikan jawaban, biasanya belut malah lebih suka dengan air hujan.
(menurut saya, jenis hujan sekarang khan banyak kandungan kimianya atau lebih asam karena banyak pencemaran dimana-mana, apalagi pada daerah tertentu yang banyak pabrik, artinya air hujannya sudah tidak sehat lagi)

Q : Jenis pakan apakah yang cocok selain Cacing? apakah ikan rucah bisa?
A : karena belut tidak suka dengan asin, maka untuk jenis ikan rucah yang berasal dari laut kurang cocok bagi belut.

Demikian sedikit tangkapan dari sesion tanya jawab yang sempat saya ingat-ingat, semoga bisa memberikan informasi tambahan bagi para Beluter.

Selasa, 27 Mei 2008

Pelatihan Budidaya Belut Tanpa Lumpur II

Berikut Gambar hasil tangkapan dalam Pelatihan Budidaya Belut Tanpa Lumpur dengan nara sumber Bapak Ahmad Sarkan. Untuk gambar lebih jelasnya akan saya coba upload di forum BelutJawa.















Penyiapan Kolam Dan Media
Bapak Sarkan mencoba menerangkan proses pembuatan kolam dan penyiapan media, walaupun di bawah terik matahari tapi para peserta antusias untuk mendengarkan.















Bibit Belut yang disiap untuk didistribusikan ke petani.















Kolam Budidaya dari terpal, kolam tersebut milik bapak Kokok. Kolam terbuat dari terpal, media 100% Gedebog pisang busuk. Kedalaman media 25 cm.















Agar ketersediaan pakan buat belut terjamin, maka dibuat peternakan cacing.















Close up dari cacing yang belum masuk kemedia, karena cacing ini baru saja didatangkan.















Diskusi di kolam bersama panitia dan peserta.

Pelatihan Budidaya Belut Tanpa Lumpur I


Meneruskan topik pelatihan budidaya belut, saya akan coba ceritakan runtutan acara dan hasil pelatihan budidaya belut yang diadakan oleh BKM Pandawa Winong kec. winong kabupaten Pati, dengan nara sumber Bapak Ahmad Sarkan SE, M.ag.
Acara ini termasuk sepektakuler, karena jumlah peserta yang sangat banyak ada lebih dari 300 orang peserta. Pelatihan yang berlokasi di ruang pertemuan balai desa winong ini penuh sesak, sebagian besar peserta berasal dari kec Winong terutama warga desa winong sendiri, dan beberapa peserta dari luar kota. Acara ini dihadiri oleh Bapak camat Winong mewakili ibu wakil Bupati yang sedianya akan membuka pelatihan ini, pejabat dari dinas perikanan dan para pamong praja. acara baru dimulai pukul 10.00 mundur satu jam dari jadwal yang direncanakan,karena masih menunggu beberapa peserta yang dari luar kota, termasuk rombongan saya beserta teman-teman beluter dari Kendal. walaupun waktu untuk menyiapkan acara tersebut sangat terbatas, hanya 3 minggu (penuturan dari bapak ketua panitia) namun karena kepanitian tersusun dengan rapi, kerja sama dan kerja keras menghasilkan lingkungan pelatihan yang rapi dan teratur.
Acara dimulai dengan sambutan-sambutan dari bapak ketua panitia, bapak wakil dari dinas perikanan dan sambutan dari bapak camat. Harapan yang disampaikan dari bapak camat sebagai wakil dari ibu wakil bupati mengharapkan kepada perserta untuk benar-benar memperhatikan materi yang akan disampaikan oleh bapak nara sumber, yang nantinya akan sangat bermanfaat setelah menekuni budidaya belut nantinya. Harapan berikutnya beliau mengharapkan Pati sebagai sentra budidaya Belut, yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pati. Beliau juga memberikan angin segar bagi para kelompok tani yang kekurangan modal agar jangan kwatir, pemerintah akan memberikan kucuran dana jika memang kelompok tani tersebut mempunyai prospek kedepan yang bagus.
Setelah acara seremonial dan lomba pidato dilanjutkan dengan paparan budidaya belut oleh narasumber bapak Ahmad Sarkan. Paparan dimulai dengan sejarah perbelutan nasional, ada empat orang narasumber yang sampai sekarang dijadikan acuan bagi para beluter. Dimulai dari Bapak Roy, Bapak Son son, Bapak Ardiyant dan yang baru naik daun Bapak Sarkan. Kemudian dilanjutkan dengan paparan prospek budidaya belut ini, masalah bibit dan hasil panen akan ditangani oleh Bapak Sarkan, diharapkan petani yang sudah membudidayakan tidak akan kebigungan untuk mendapatkan bibit dan kemana akan memasarkan hasil panen. Beliau mampu untuk menyediakan bibit dalam jumlah besar, karena sudah banyak daerah-daerah yang mengambil bibit dari Bapak Sarkan. Untuk pengambilan bibit akan diberikan garansi kematian, dan bibit yang dihasilkan merupakan bibit hasil pemijahan, demikian garansi yang diberikan oleh bapak Sarkan kepada para peserta pelatihan.
Membahas masalah teknik budidaya diawali dengan menguraikan jenis-jenis belut yang bisa dibudidayakan, dilanjutkan dengan hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya belut.
Beberapa hal Yang perlu diperhatikan :
  1. Pakan Awal
  2. Pakan Lanjutan
  3. Kolam
  4. Media
  5. Air
  6. Tanaman Air
Pakan ditekankan sekali, karena budidaya belut tanpa pemberian pakan yang bagus belut tidak akan berkembang baik. Sebelum memulai budidaya belut pakan berupa cacing perlu kita siapkan dulu minimal 14 hari sebelum tebar , karena jenis cacing tersebut akan berkembang setelah 14 hari. Tidak ada pemberitahuan jenis cacing yang disediakan oleh Bapak Sarkan. Pemberian pakan minimal 5 % pada bulan pertama 10% pada bulan kedua, 15 % pada bulan ke tiga, untuk bulan ke empat perlu ditambahkan makanan lain selain cacing, karena kebutuhan pakan semakin besar. Makanan tambahan ini dapat berupa belatung, yuyu, keong dan banyak macamnya.

Menginjak kemasalah Kolam, dijelaskan ada empat tipe kolam:
  1. Kolam Sawah
  2. Kolam Pemanen/Tembok
  3. Kolam Jaring
  4. Kolam Terpal
Dari beberapa tipe kolam tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri, yang umum dipakai adalah kolam permanen dan kolam terpal. Kelebihan dari kolam permanen adalah memudahkan dalam merawat belut, tahan lama yang menjadi kendala adalah biaya pembuatan yang butuh dana cukup besar. sebagi alternatif dapat digunakan

Kolam Terpal, yang mempunyai kelebihan harga pembuatan yang cukup murah.
Media hidup belut sangat memegang peranan dalam budidaya belut ini karena sebgai rumah dari belut, yang namanya rumah haruslah nyaman untuk tempat tinggal, sehingga kita harus membuat media ini cocok dengan belut. Media dibuat semaksimal mungkin mendekati media asli dialam. Ada empat jenis media yang direkomendasikan Oleh Bapak Sarkan :
  1. Murni 100% Tanah (sebaiknya tanah sawah)
  2. Campuran 80% tanah, 10% gedebog pisang busuk dan 10% jerami
  3. Campuran 80% tanah dan 20% Gedebog pisang busuk
  4. Murni 100% gedebog busuk
Dari keempat media tersebut semuanya telah dicoba oleh bapak Sarkan dan sudah cocok untuk budidaya belut, semua dikondisikan sesuai dengan keadaan lingkungan masing-masing.
Air tidak boleh lepas dari pantaun, Air yang bersih sanagt dibutuhkan dalam budidaya belut ini, karena banyak sisa hasil metabolisme, atau kotoran belut yang harus dikeluarkan. Kondisi air mengalir sangat di rekomendasikan, minimal 2 hari sekali ada sirkulai air.
Yang disebut sebagai Budidaya belut tanpa media Lumpur adalah point ke empat, media 100% gedebog pisang yang busuk, namun amat disayangkan ulasan tentang media tanpa lumpur ini sangat terbatas.
Ulasan tentang cara panen masih belum lengkap, bagaimana cara penanganan hasil panen, cara mengangkat belut dari lumpur, pengangkutan. Yang masih belum dibahas adalah masalah penyakit.
Setelah paparan disampaikan oleh bapak Sarkan dilanjutkan dengan sesion tanya jawab.
Saya akan coba tuliskan apa saja yang banyak ditanyakan oleh peserta dan kebetulan ada sedikit gambar yang bisa memberikan gambaran pada kita. To be continue